BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Glaukoma adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan
tekanan intraokuler pada mata. Oleh karena itu glaukoma dapat mengganggu
penglihatan yang perlu diwaspadai. Tidak hanya itu, glaucoma juga dapat membawa
kita kepada kebutaan. Contohnya pada kasus glaucoma yang terjadi di Amerika
Serikat. Disana glaucoma beresiko 12% pada kebutan (Luckman &
Sorensen.1980). Glaukoma adalah sekelompok kelainan/kerusakan mata yang
ditandai dengan berkurangnya peningkatan tekanan (Barbara C. Long). Glaukoma
adalah kelompok penyakit mata yang ditandai dengan berkurangnya lapang pandang
akibat kerusakan saraf optikus kerusakan ini berhubungan dengan peningkatan TIO
yang terlalu tinggi. (Brunner & Suddarth). Semakin tinggi tekanannya, semakin
cepat kerusakan saraf optikus tersebut berlangsung. Peningkatan TIO terjadi
akibat perubahan patologis yang menghambat peredaran normal humor aques.
Menurut data dari WHO pada tahun 2002, penyebab
kebutaan paling utama di dunia adalah katarak (47,8%), galukoma (12,3%),
uveitis (10,2%), age- related mucular degeneration (AMD) (8,7%), trakhoma
(3,6%), corneal apacity (5,1%), dan diabetic retinopathy (4,8%). Glaukoma
merupakan penyebab kebutaan yang ketiga di Indonesia. Terdapat sejumlah 0,40 %
penderita glaucoma di Indonesia mengakibatkan kebutaan pada 0,16% penduduk.
Glaucoma dapat disebabkan oleh
beberapa factor antara lain : Sangat mungkin merupakan penyakit yang diturunkan
dalam keluarga, timbul akibat penyakit atau kelainan dalam mata, diakibatkan
penyakit lain di tubuh dan dapat disebabkan efek samping obat. Bilik
anterior dan bilik posterior mata terisi oleh cairan encer yang disebut humor
aqueus.. Jika aliran cairan ini terganggu (biasanya karena penyumbatan yang
menghalangi keluarnya cairan dari bilik anterior), maka akan terjadi
peningkatan tekanan. Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan
antara saraf optikus dan retina di bagian belakang mata. Akibatnya pasokan
darah kesaraf optikus berkurang sehingga sel-sel sarafnya mati. Karena saraf
optikus mengalami kemunduran, maka akan terbentuk bintik buta pada lapang
pandang mata. Bagian pertama yang
terkena adalah lapang pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral.
Jika tidak diobati, glaukoma pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan.
Namun sesungguhnya hal ini bisa di cegah dengan
pemeriksaan tonometri rutin. Sehingga tidak sampai terjadi hal fatal seperti
kebutaan. Jika seseorang tidak pernah melakukan pemeriksaan tonometri, sedang
ia baru mendapati dirinya glaukoma yang sudah fatal, maka tindakan yang bisa di
ambil adalah operasi. Mendengar kata ini jelas kita sudah merinding sebelum
melakukannya. Apalagi hasil dari opersi belum tentu sesuai dengan harapan kita.
Misal, opersi tersebut berujung pada kebutaan seperti contoh di atas. Oleh
karena itu, kita perlu malakukan pengukuran tonometri rutin dan juga memahami
proses keparawatan pada klien glaukoma. Supaya sebagai perawat tentunya kita
dapat menegakkan asuhan keperawatan yang benar.
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1 Bagaimana
konsep kelainan aquos humor : Glaukoma ?
1.2.2 Bagaimana
konsep proses asuhan keperawatan glaucoma ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan
Umum
Menjelaskan
konsep dan proses asuhan keperawatan pada glaucoma
1.3.2 Tujuan
Khusus
1. Mengidentifikasi
anatomi dan fisiologi mata
2. Mengidentifikasi
definisi dari glaukoma
3.
Mengidentifikasi klasifikasi dari glaukoma
4.
Mengidentifikasi patofisiologi dari glaukoma
5.
Mengidentifikasi tanda dan gejala dari glaucoma
6.
Mengidentifikasi factor resiko dati glaucoma
7.
Mengidentifikasi terjadinya kebutaan dari glaucoma
8.
Mengidentifikasi penatalaksanaan medis
9.
Mengidentifikasi proses asuhan keperawatan dari glaucoma
1.4 Manfaat
1.4.1 Mahasiswa
memahami konsep dan proses asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan
glaukoma sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah.
1.4.2 Mahasiswa
mengetahui proses asuhan keperawatan yang benar sehingga dapat menjadi bekal
dalam persiapan praktik di rumah sakit
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi mata

a. Struktur mata tambahan
Mata
dilindungi dari kotoran dan benda asing oleh alis, bulu mata dan kelopak mata.
Konjungtiva adalah suatu membran tipis yang melapisi kelopak mata ( konjungtiva
palpebra), kecuali darah pupil. Konjungtiva palpebra melipat kedalam dan
menyatu dengan konjungtiva bulbar membentuk kantung yang disebut sakus
konjungtiva. Walaupun konjungtiva transparan, bagian palpebra tampak merah muda
karena pantulan dari pembuluh – pembuluh darah yang ada didalamnya, pembuluh –
pembuluh darah kecil dapat dari konjungtiva bulbar diatas sklera mata.
Konjungtiva melindungi mata dan mencegah mata dari kekeringan.
Kelenjar
lakrimalis teletak pada sebelah atas dan lateral dari bola mata. Kelenjar
lakrimalis mengsekresi cairan lakrimalis. Air mata berguna untuk membasahi dan
melembabkan kornea, kelebihan sekresi akan dialirkan ke kantung lakrimalis yang
terletak pada sisi hidung dekat mata dan melalui duktus nasolakrimalis untuk
kehidung.
b. Bola Mata
Bola
mata disusun oleh tiga lapisan, yaitu : sklera, koroid, dan retina. Lapisan
terluar yang kencang atau sklera tampak putih gelap dan ada yang bening yaitu
pada bagian iris dan pupil yang membantuk kornea. Lapisan tengan yaitu koroid
mengandung pembuluh – pembuluh darah yang arteriolnya masu kedalam badan siliar
yang menempel pada ligamen suspensori dan iris. Lapisan terdalam adalah retina
yang tidak mempunyai bagian anterior mengandung reseptor cahaya ( fotoreseptor
) yang terdiri dari sel batang dan sel kerucut. Reseptor cahaya melakukan synap
dengan saraf - saraf bipolar diretina dan kemudian dengan saraf – saraf
ganglion diteruskan keserabut saraf optikus. Sel kerucut lebih sedikit
dibanding sel batang. Sel kerucut dapat ditemukan di dekat pusat retina dan
diperkirakan menjadi reseptor terhadap cahaya terang dan penglihatan warna. Sel
– sel batang ditemukan banyak pada daerah perifer retina yang merupakan
reseptor terhadap gelap atau penglihatan malam. Sel – sel batang mengandung
rhodopsin yaitu suatu protein fotosintetif yang cepat berkurang dalam cahaya
terang. Regenerasi rhodopsin bersifat lambat tergantung pada tersedianya
vitamin A, mata memerlukan waktu untuk beradaptasi dari terang ke gelap.
Defisiensi vitamin A mempengaruhi kemampuan melihat dimalam hari.
c. Ruangan pada mata
Bagian
dalam bola mata terdiri dari 2 rongga ; anterior dan posterior. Rongga anterior
teletak didepan lensa, selanjutnya dibagi lagi kedalam dua ruang ; ruang
anterior ( antara kornea dan iris ) dan ruang posterior ( antara iris dan lensa
). Rongga anterior berisi cairan bening yang dinamakan humor aqueous yang
diproduksi dalam badan ciliary, mengalir kedalam ruang posterior melewati pupil
masuk keruang anterior dan dikeluarkan melalui saluran schelmm yang
menghubungkan iris dan kornea ( sudut ruang anterior ).
d. Iris dan lensa
Iris
adalah berwarna, membran membentuk cairan ( bundar ) mengandung dilator
involunter dan otot – otot spingter yang mengatur ukuran pupil. Pupil adalah
ruangan ditengah – tengah iris, ukuran pupil bervariasi dalam merespon
intensitas cahaya dan memfokuskan objek ( akomodasi ) untuk memperjelas
penglihatan, pupil mengecil jika cahaya terang atau untuk penglihatan dekat.
Lensa
mata merupakan suatu kristal, berbentuk bikonfek ( cembung ) bening, terletak
dibelakang iris, terbagi kedalam ruang anterior dan posterior. Lensa tersusun
dari sel – sel epitel yang dibungkus oleh membran elastis, ketebalannya dapat
berubah – ubah menjadi lensa cembung bila refraksi lebih besar.
e. Otot – otot mata
Otot
– otot mata terdiri dari dua tipe; ekstrinsik dan intrinsik. Otot – otot
intrinsi bersifat volunter ( dibawah sadar ), diluar bola mata yang mengontrol
pergerakan diluar mata. Otot – otot intrinsik bersifat involunter ( tidak
disadari ) berada dalam badan ciliary yang mengontrol ketebalan dan ketipisan
lensa, iris dan ukuran pupil.
f. Sudut filtrasi
Sudut
filtrasi ini terdapat didalam limbus kornea. Limbus adalah bagian yang dibatasi
oleh garis yang menghubungkan akhir dari membran descemet dan membran bowman
lalu ke posterior 0,75 mm, kemudian kedalam mengelilingi kanal schelmm dan
trabekula sampai ke COA. Akhir dari membran descemet disebut garis schwalbe.
Limbus terdiri dari 2 lapisan epitel dan stroma. Epitelnya dua kali setebal
epitel kornea. Didalam stromanya terdapat serat – serat saraf dan cabang akhir
dari A. siliaris anterior. Bagian terpenting dari sudut foltrasi adalah
trabekula, yang terdiri dari :
·
Trabekula
korneoskeral, serabutnya berasal dari lapisan dalam stroma kornea dan menuju
kebelakang, mengelilingi kanal schelmm untuk berinsersi pada sklera.
·
Trabekula
uveal, serabut berasal dari lapisan dalam stroma kornea, menuju ke skleralspur
( insersi dari m. siliarir ) dan sebagian ke m. siliaris meridional.
·
serabut
berasal dari akhir membran descemet ( garis schwalbe ), menuju kejaringan
pengikat m. siliaris radialis dan sirkularis.
·
Ligamentum
pektinatum rudimenter, berasaal dari dataran depan iris menuju ke depan trabekula.
Trabekula terdiri dari jaringan kolagen, jaringan homogen, elastis, dan
seluruhnya diliputi endotel. Keseluruhannya merupakan spons yang tembus
pandang, sehingga bila ada darah dalam canal schelmm, dapat terlihat dari luar.
2.2 Fisiologi Penglihatan
Cahaya
masuk ke mata dan di belokkan (refraksi) ketika melalui kornea dan
struktur-struktur lain dari mata (kornea, humor aqueous, lensa, humor vitreous)
yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina, hal ini
disebut kesalahan refraksi.
Mata
mengatur (akomodasi) sedemikian rupa ketika melihat objek yang jaraknya
bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Pemglihatan dekat memerlukan
kontraksi dari badan ciliary, yang bisa memendekkan jarak antara kedua sisi
badan ciliary yang diikuti dengan relaksasi ligamen pada lensa. Lensa menjadi
lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina. Penglihatan yang terus
menerus dapat menimbulkan ketegangan mata karena kontraksi yang menetap
(konstan) dari otot-otot ciliary. Hal ini dapat dikurangi dengan seringnya
mengganti jarak antara objek dengan mata. Akomodasi juga dibantu dengan
perubahan ukuran pupil. Penglihatan dekat, iris akan mengecilkan pupil agar
cahaya lebih kuat melelui lensa yang tebal.
Cahaya
diterima oleh fotoreseptor pada retina dan dirubah menjadi aktivitas listrik
diteruskan ke kortek. Serabut-serabut saraf optikus terbagi di optik chiasma
(persilangan saraf mata kanan dan kiri), bagian medial dari masing-masing saraf
bersilangan pada sisi yang berlawanan dan impuls diteruskan ke korteks visual.
Tekanan
dalam bola mata (intra occular pressure/IOP) Tekanan dalam bola mata
dipertahankan oleh keseimbangan antara produksi dan pengaliran dari humor
aqueous. Pengaliran dapat dihambat oleh bendungan pada jaringan trabekula (yang
menyaring humor aquoeus ketika masuk kesaluran schellem) atau dfengan
meningkatnya tekanan pada vena-vena sekitar sclera yang bermuara kesaluran
schellem. Sedikit humor aqueous dapat maengalir keruang otot-otot ciliary
kemudian ke ruang suprakoroid. Pemasukan kesaluran schellem dapat dihambat oleh
iris. Sistem pertahanan katup (Valsava manuefer) dapat meningkatkan tekanan
vena. Meningkatkan tekanan vena sekitar sklera memungkinkan berkurangnya humor
aquoeus yang mengalir sehingga dapat meningkatkan IOP. Kadang-kadang
meningkatnya IOP dapat terjadi karena stress emosional.
2.3 Konsep Dasar Glaukoma
2.3.1
Pengertian

Glaukoma adalah suatu keadaan
dimana tekanan bola mata tidak normal. Tekanan bola mata yang normal dinyatakan
dengan tekanan air raksa yaitu antara 15-20 mmHg (sidarta,2004). Tekanan bola
mata yang tinggi juga akan mengakibatkan kerusakan syaraf penglihatan yang
terletak di dalam bola mata. Pada keadaan tekanan bola mata tidak normal atau
tinggi maka akan terjadi gangguan lapang pandang. Kerusakan seluruh syaraf
penglihat akan mengakibatkan kebutaan.
Glaucoma adalah sekelompok gangguan
yang melibatkan beberapa perubahan atau gejala patologis yang ditandai dengan
peningkatan tekanan intra okuler (TIO) dengan segala akibatnya. Istilah
glaukoma merujuk pada kelompok penyakit yang berbeda dalam hal patologisnya.
Biasanya ditandai dengan berkurangnya lapang pandang akibat kerusakan saraf
optikud. Kerusakan ini berhubungan dengan derajat TIO, yang terlalu tinggi
untuk berfungsinya saraf optikus secara normal. Semakin tinggi tekanannya,
semakin cepat kerusakan saraf optikus tersebut berlangsung. Peningkatan TIO
terjadi akibat perubahan patologis yang menghambat peredaran normal humos
aqueus.
2.3.2
Klasifikasi glaucoma
A. Glaucoma
Primer
Glaucoma jenis ini merupakan bentuk
yang paling sering terjadi, struktur yang terlibat dalam sirkulasi dan/atau
reabsorbsi akuos humor mengalami perubahan patologi langsung.
v Glaucoma
sudut terbuka

Keadaan ini terjadi pada klien usia lanjut (>40
tahun) dan perubahan karena usia lanjut memegang peranan penting dalam proses
sklerosa badan silier dan jaringan trabekel. Karena aquos humor tidak dapat
meninggalkan mata pada kecepatan yang sama dengan produksinya, TIO meningkat
secara bertahap. Bentuk ini biasanya bilateral dan dapat berkembang menjadi
kebutaan komplet tanpa adanya serangan akut.
Gejalanya relative ringan dan banyak klien tidak
menyadarinya hingga terjadi kerusakan visus yang serius. Suatu tanda berharga
yang dikemukakan oleh Downey yaitu jika diantara kedua mata selalu terdapat
perbedaan TIO 4mmHg atau lebih, dianggap menunjukkan kemungkinan glaucoma
simpleks meskipun tensinya masih normal (wijana N, 1993). Tanda klasik bersifat
bilateral, herediter, TIO meninggi, sudut COA terbuka, bolamata yang tenang,
lapang pandang mengecil dengan macam-macam skotoma yang khas, perjalanan
penyakit progresif lambat.
v Glaucoma
sudut tertutup

Tanda dan gejala meliputi nyeri hebat didalam dan
sekitar mata, timbulnya halo disekitar cahaya, pandangan kabur. Klien kadang
mengeluhkan keluhan umum seperti sakit kepala, mual, muntah, kedinginan, demam
bahkan perasaan takut mati mirip serangan angina yang dapat sedemikian kuatnya
sehingga keluhan mata (gangguan penglihatan, fotopobia, dan lakrimasi) tidak
begitu dirasakan oleh klien. Peningkatan TIO menyebabkan nyeri yang melalui
saraf kornea menjalar ke pelipis, oksiput dan rahang melalui cabang-cabang
nervus trigeminus. Iritasi saraf vagal dapat mengakibatkan mual dan sakit
perut.
B. Glaukoma
Sekunder
Glaucoma sekunder adalah glaucoma
yang terjadi akibat penyakit mata lain yang menyebabkan penyempitan sudut atau
peningkatan volume cairan di dalam mata. Kondisi ini secara tidak langsung
mengganggu aktivitas struktur yang terlibat dalam sirkulasi dan/atau reabsorbsi
aquous humor.
Gangguan ini terjadi akibat:
·
Perubahan lensa, dislokasi lensa,
intumesensi lensa yang katarak, terlepasnya kapsul lensa pada katarak.
·
Perubahan uvea, uveitis anterior,
melanoma dari jaringan uvea, neovaskularisasi di iris.
·
Trauma, hifema, kontusio bulbi, robeknya
kornea/limbus disertai prolapse iris
·
Operasi, pertumbuhan epitel yang masuk camera oculi anterior (COA), gagalnya
pembentukan COA setelah operasi katarak, uveitis pascaekstraksi katarak yang
menyebabkan perlengketan iris.
Glaukoma dianggap sebagai sekunedr
bila penyebabnya jelas dan berhubungan dengan kelainan yang bertanggung jawab
pada peningkatan TIO. Sevara khas glaukoma jens ini biasnya unilateral. Dapat
terjadi dengan sudut terbuka atau tertutup maupun kombinasi keduanya.
Pada glaukoma sudut terbuka
sekunder, pningkatan TIO disebabkan oleh peningkatan tahanan aliaran keluar
humor aqueos melalui jaring-jaring trabekuler, kanalin schlemm, dan sistem vena
episkleral. Pori-pori trabeluka dapat tersumbat oleh setiap jenis debris,
darah, pus, atau bahan lainnya. Peningkatan tahanan tersebut dapat diakibatkan
oleh penggunaan kortikosteroid jangka lama, tumor intraokuler, uveitis akibat
penyakit seperti herpes simpleks atau herpes zoster, atau penyumbatan
jaring-jaring trabekula oleh material lensa, bahan viskoelastik (digunakan pada
pemeadahan katarak), darah, atau pigmen. peninggian tekanan vena episkleral
akibat keadaan seperti luka bakar kimia, tumorretrobulber, penyakit atau
sumbatan venapulmonal juga dapat mengakibatkan peningkatan TIO. Selain itu,
glaukoma sudut terbuka dapat terjadi setelah ekstraksi katarak, implantasi TIO
(khusunya lensa kamera anterior), penguncian sklera, viterktomi, kpasulotomi
posterior, atau trauma.
Pada glaukoma penutupan sudut
sekunder, peningkatan tahanan lairan humor aqueos disebabkan oleh penyumbatan
jaring-jaring trabekula oleh iris perifer. Kondisi ini biasaya disebabkan oleh
perubahan aliran humor aqueos setelah menderita penyakit atau pembedahan.
Keterlibatan anterior terjadi setelah terbentuknya membrana pada galukoma
neovaskuler, trauma, aniridia, dan penyakit endotel. Penjyebab posterior
terjadi pada penyumbatan pupil akibat lensa atau IOL menghambat aliran humor
aqueos ke kamera anterior.
C. Glaukoma
Kongenital

2.3.3
Patofisiologi
TIO ditentukan oleh kecepatan
produksi aquos humor dan aliran keluar aquous humor dari mata. TIO normal
adalah 10-21 mmHg dan dipertahankan selama terdapat keseimbangan antara
produksi dan aliran keluar akuous humor. Akuous humor diproduksi di dalam badan
silier dan mengalir keluar melalui kanal Schlemn ke dalam system vena.
Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih badan silier atau oleh
peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar akuous melalui camera oculi anterior (COA). Peningkatan
tekanan intraokuler >23mmHg memerlukan evaluasi yang seksama. Penigkatan TIO
mengurangi aliran darah ke saraf optic dan retina. Iskemia menyebabkan struktur
ini kehilangan fungsinya secara bertahap. Kerusakan jaringan biasanya dimulai
dar perifer dan bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan
saraf optic dan retina adalah irreversible dan hal ini bersifat permanen. Tanpa
penanganan, glaucoma dapat menyebabkan kebutaan. Hilangnya penglihatan ditandai
dengan adanya titik buta pada lapang pandang.

2.3.4
Tanda dan gejala Glaukoma
Menurut
Sidarta Ilyas glaucoma akan memperlihatkan gejala:
a) Tekanan
bola mata yng tidak normal
Bola
mata yang mengandung cairan mata mempunyai tekanan yang diatur oleh cairan yang
masuk. Untuk mendapatkan tekanan yang tetap didalam bola mata terdapat
keseimbangan cairan keluar yang sama jumlahnya dengan yang masuk.
·
Tekana bola mata yang meninggi, tekanan
di dalam bola mata akan meningkat bila:
-
Cairan mata yang masuk lebih bear dari
pada cairan yang keluar normal
-
Caira mata yang masuk normal sedang
keluar sedikit
-
Tekanan di dalam bola mata yang tinggi
akan mengakibatkan rusaknya selaput jala mata atau retina
b) Rusaknya
selaput jala
c) Menciutnya
lapang pandang akibat rusaknya selaput jala yang dapat berakhir dengan
kebutaan.
Menurut
Indriana N Istiqomah tanda dan gejala glaucoma terbagi atas:
v Tanda
glaucoma akut primer
-
Awitan gejala akut/ mendadak
-
Nyeri hebat disekitar mata yang menjalar
pada daerah yang dilewati saraf otak V
-
Nyeri kepala / dahi
-
Mual, muntah dan ketidaknyamanan abdomen
-
Melihat lingkaran berwarna disekitar
sinar dan pandangan kabur mendadak dengan penurunan persepsi cahaya
v Tanda
glaucoma kronik primer
-
Bilateral
-
Herediter
-
TIO meninggi
-
Sudut COA terbuka
-
Bola mata yang tenang
-
Lapang pandang mengecil dengan
macam-macam skotoma yang khas
-
Perjalanan penyakit progresif lambat
v Tanda
glaucoma sekunder
-
Peningkatan nyeri dan simtome spesifik
tergantung pada penyebab penyakit okuler
-
v Tanda
glaucoma kongenital
-
Fotofobia, blefarispasme, epifora, mata
besar, kornea keruh
2.3.5
Faktor Resiko
Glaucoma merupakan penyakit yang tidak
dapat dicegah, akan tetapi bila diketahui dini dan diobati maka glaucoma dapat
diatasi untuk mencegah kerusakan lanjutnya. Orang yang mempunyai resiko untuk
menderita glaucoma adalah:
·
Bila ada riwayat penderita glaucoma pada
keluarga maka risiko 4 kali orang normal
·
Penderita miopi (rabun jauh)
·
Usia diatas 60 tahun
Glaucoma
tidak membedakan lelaki atau perempuan. Umur seseorang sedikit mempengaruhi
timbulnya glaucoma ataupun serangan glaucoma. Pada usia lebih dari 40 tahun
seseorang yang berbakat glaucoma akan mudah memperlihatkan gejal-gejala
glaukomanya
·
Rabun dekat berat
·
Penderita diabetes mellitus atau kencing
manis.
2.3.6
Terjadinya kebutaan pada glaukoma
Pada glaucoma terjadi gangguan penglihatan dimulai
dengan hilangnya lapang pandang, tepi yang berjalan perlahan-lahan. Lapang
pandangan menyempit dan berakhir dengan hilangnya seluruh lapang pandangan dan
menjadi buta. Namun hal ini setidaknya dapat dicegah, yaitu :
o
Pada orang yang telah berusia 20 tahun
sebaiknya dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata berkala secara teratur setiap
3 tahun
o
Bila terdapat riwayat adanya glaucoma
pada keluarga maka lakukan pemeriksaan ini setiap tahun.
o
Secara teratur perlu dilakukan
pemeriksaan lapang pangdangan dan tekanan mata pada orang yang dicurigai akan
timbulnya glaucoma
o
Sebaiknya segera diperiksakan
tekanan mata bila mata menjadi merah
dengan sakit kepala yang berat.
2.3.7
Penatalaksanaan medis
Tujuan utama terapi glaukoma adalah
dengan menurunkan tekanan intraokular serta meningkatkan aliran humor aquos
(drainase) dengan efek samping yang minimal, membuka sudut yang tertutup (pada
glaucoma sudut tertutup), melakukan tindakan suportif (mengurangi nyeri, mual,
muntah serta mengurangi radang), mencegah adanya sudut tertutup ulang serta
mencegah gangguan mata yang baik (sebelahnya) meliputi:
1)
Penatalaksanaan Medis
a.
Glaukoma Primer
§ Pemberian
tetes mata Beta blocker (misalnya timolol, betaxolol, carteolol, levobunolol
atau metipranolol) yang kemungkinan akan mengurangi pembentukan cairan di dalam
mata dan TIO.
§ Pilocarpine
untuk memperkecil pupil sehingga iris tertarik dan membuka saluran yang
tersumbat.
§ Obat lainnya
yang juga diberikan adalah epinephrine, dipivephrine dan carbacol (untuk
memperbaiki pengaliran cairan atau mengurangi pembentukan cairan)
§ Minum
larutan gliserin dan air biasa untuk mengurangi tekanan dan menghentikan
serangan glaukoma.
§ Bisa juga
diberikan inhibitor karbonik anhidrase (misalnya
acetazolamide).
§ Pada kasus
yang berat, untuk mengurangi tekanan biasanya diberikan manitol intravena (melalui
pembuluh darah)
b.
Glaukoma sekunder
Pengobatan glaukoma sekunder tergantung kepada penyebabnya. Jika
penyebabnya adalah peradangan, diberikan corticosteroid dan obat untuk
melebarkan pupil. Kadang dilakukan pembedahan.
c.
Glaukoma kongenitali
Untuk mengatasi Glaukoma kongenitalis perlu dilakukan pembedahan.
2)
Terapi Laser
Apabila obat tidak dapat mengontrol
glaukoma dan peningkatan TIO menetap, maka terapi laser dan pembedahan
merupakan alternatif
a.
Laser iridotomy melibatkan pembuatan suatu lubang pada
bagian mata yang berwarna (iris) untuk mengizinkan cairan mengalir secara
normal pada mata dengan sudut sempit atau tertutup (narrow or closed angles).
b.
Laser trabeculoplasty adalah suatu
prosedur laser dilaksanakan hanya pada mata-mata dengan sudut-sudut terbuka
(open angles). Laser trabeculoplastytidak menyembuhkan glaukoma,
namun sering dilakukan daripada meningkatkan jumlah obat-obat tetes mata yang
berbeda-beda. Pada beberapa kasus-kasus, dia digunakan sebagai terapi permulaan
atau terapi utama untuk open-angleglaukoma. Prosedur ini adalah
metode yang cepat, tidak sakit, dan relatif aman untuk menurunkan tekanan intraocular.
Dengan mata yang dibius dengan obat-obat tetes bius, perawatan laser
dilaksanakan melalui lens kontak yang berkaca pada sudut mata (angle of the
eye). Microscopic laser yang membakar sudut mengizinkan
cairan keluar lebih leluasa dari kanal-kanal pengaliran.
c.
Laser cilioablation (juga dikenal
sebagai penghancuran badan ciliary ataucyclophotocoagulation) adalah
bentuk lain dari perawatan yang umumnya dicadangkan untuk pasien-pasien dengan
bentuk-bentuk yang parah dari glaukoma dengan potensi penglihatan yang miskin.
Prosedur ini melibatkan pelaksanaan pembakaran laser pada bagian mata yang
membuat cairan aqueous (ciliary body). Pembakaran laser ini
menghancurkan sel-sel yang membuat cairan, dengan demikian mengurangi tekanan
mata.
3)
Terapi Pembedahan
a.
Trabeculectomy adalah suatu prosedur operasi mikro
yang sulit, digunakan untuk merawat glaukoma. Pada operasi ini, suatu potongan
kecil dari trabecular meshwork yang tersumbat dihilangkan untuk menciptakan
suatu pembukaan dan suatu jalan kecil penyaringan yang baru dibuat untuk cairan
keluar dari mata. Untk jalan-jalan kecil baru, suatu bleb penyaringan kecil diciptakan
dari jaringan conjunctiva (conjunctival tissue). Conjunctiva adalah penutup
bening diatas putih mata. Filtering bleb adalah suatu area yang timbul seperti
bisul yang ditempatkan pada bagian atas mata dibawah kelopak atas. Sistim
pengaliran baru ini mengizinkan cairan untuk meninggalkan mata, masuk ke bleb,
dan kemudian lewat masuk kedalam sirkulasi darah kapiler (capillary blood
circulation) dengan demikian menurunkan tekanan mata. Trabeculectomy adalah
operasi glaukoma yang paling umum dilaksanakan. Jika sukses, dia merupakan alat
paling efektif menurunkan tekanan mata.
b.
Viscocanalostomy adalah suatu prosedur operasi
alternatif yang digunakan untuk menurunkan tekanan mata. Dia melibatkan
penghilangan suatu potongan dari sclera (dinding mata) untuk meninggalkan hanya
suatu membran yang tipis dari jaringan melaluinya cairan aqueous dapat dengan
lebih mudah mengalir. Ketika dia lebih tidak invasiv dibanding trabeculectomy dan aqueous
shunt surgery, dia juga bertendensi lebih tidak efektif. Ahli bedah kadangkala
menciptakan tipe-tipe lain dari sistim pengaliran (drainage systems).
Ketika operasi glaukoma seringkali efektif, komplikasi-komplikasi, seperti
infeksi atau perdarahan, adalah mungkin. Maka, operasi umumnya dicadangkan
untuk kasus-kasus yang dengan cara lain tidak dapat dikontrol.
v Komplikasi
pembedahan
-
Peningkatan TIO, ditandai dengan nyeri okuler, nyeri
diatas alis dan mual. Cegah klien membungkuk, mengangkat benda berat, mengejan
saat buang air besar, batuk dan muntah
-
Hipotoni (penurunan TIO), dapat menyebabkan perdarahan
koroid, atau lepasnya koroid, ditandai dengan nyeri yang dalam di dalam mata
dengan awitan pasti, diaphoresis atau perubahan tanda vital.
-
Infeksi, pantau tanda vital. Infeksi harus dicegah
karena klien dapat mengalami kehilangan pandangan atau kehilangan mata itu
sendiri.
-
Jaringan parut, dapat mengurangi keefektifan jalur
baru. Steroid topical dapat digunakan
karena efek samping penggunaan steroid adalah memeperpanjang pemulihan luka.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
3.1.1 Anamnesis
-
Anamnesis mencakup data demografi yang
meliputi:
·
Umur, glaucoma primer terjadi pada
individu berumur >40 tahun.
·
Ras, kulit hitam mengalami kebutaan
akibat glaucoma paling sedikit 5 kali dari kulit putih (deWit,1998).
·
Pekerjaan, terutama yang beresiko besar
mengalami trauma mata.
Selain itu harus diketahui adanya masalah mata
sebelumnya atau yang ada saat ini, riwayat penggunaan antihistamin (menyebabkan
dilatasi pupil yang akhirnya dapat menyebabkan angle-closure glaucoma), riwayat keluarga dengan glaucoma, riwayat
trauma (terutama yang mengenai mata), riwayat penyakit lain yang sedang
diderita (diabetes mellitus, arteriosclerosis, myopia tinggi).
-
Riwayat psikososial mencakup adanya
ansietas yang ditandai dengan bicara cepat, mudah berganti topic, sulit berkonsentrasi
dan sensitive, dan berduka karena kehilangan penglihatan.
3.1.2 Data
Dasar
·
Aktivitas/ istirahat
Gejala : perubahan aktivitas
biasanya/ hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan
·
Makanan/Cairan
Gejala : mual, muntah
(glaucoma akut)
·
Neurosensory
Gejala : penglihatan berawan/
kabur, tampak lingkara cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan
perifer, fotopobia (glaucoma akut), perubahan kacamata / pengobatan tidak
memperbaiki penglihatan
Tanda : pupil menyempit dan
merah/ mata keras dengan kornea berawan (glaucoma darurat), peningkatan air
mata.
·
Nyeri/kenyamanan
Gejala : ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaucoma
kronis, nyeri tiba-tiba/ berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata,
sakit kepala (glaucoma akut)
3.1.3 Pemeriksaan
fisik
·
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan
menggunakan oftalmoskop untuk mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus menjadi lebih
luas dan lebih dalam. Pada glaucoma akut primer, kamera anterior dangkal,
akuous humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar iris.
·
Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada
keadaan akut lapang pandang cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik
akan menurun secara bertahap.
·
Pemeriksaan fisik melalui inspeksi untuk
mengetahui adanya inflamasi mata, sclera kemerahan, kornea keruh, dilatasi
pupil sedang yang gagal bereaksi terhadap cahaya. Sedangkan dengan palpasi
untuk memeriksa mata yang mengalami peningkatan TIO. Terasa lebih keras
disbanding mata yang lain.
3.1.4 Pemeriksaan
diagnostic
·
Pengukuran
tonografi, menguji tekanan
intraokuler. Pada keadaan kronik atau open angle didapat nilai
22-32mmHg, sedangkan keadaan akut atau angle closure >30mmHg.
Pemeriksaan tekanan dengan tonometer, dikenal :
Tonometer chiotz, dan Tonometer aplanasi
a)
Tonometri
Schiotz
Pemakaian
tonometer ini untuk mengukur tekanan bola mata dengan cara berikut:
§ Penderita
diminta terlentang
§ Mata
di tetes tetrakain
§ Ditunggu
ampai penderita tidak merasa pedas
§ Kelopak
mata penderita dibuka dengan telunjuk dan ibu jari (jangan tertekan bola mata
penderita)
§ Telapak
tonometer akan menunjukkan angka pada skala tonometer.
Pembacaan
skala dikonversikan pada table untuk mengetahui bola mata dalam millimeter air
raksa. Pada tekanan lebih tinggi 20 mmHg dicurigai adanya glaucoma, bila
tekanan lebih dari pada 25 mmHg pasien menderita glaucoma.
b)
Tonometri
aplanasi
Dengan
tonometer aplanasi diabaikan tekanan bola mata yang dipengaruhi kekakuan sclera
(selaput putih mata). Teknik melakukan aplanasi tonometry:
§ Diberi
anastesi lokaltetrakain pada mata yang akan diperiksa.
§ Kertas
Fluoresein diletakkan pada selaput lender
§ Didekatkan
alat tonometer aplanasi pada selaput bening
§ Setelah
terlihat lingkaran telapak tonometer pada selaput bening maka tekanan dinaikkan
sehingga lingkaran tersebut mendekat sehingga bagian dalam berimpit
§ Dibaca
tekanan pada tombol putaran tonometer aplanasi yang memberi gambaran setengah
lingkaran berimpit. Tekana tersebut merupakan tekanan bola mata.
Dengan
tonometer aplanasi bila tekanan bola mata lebih dari 20mmHg dianggap sudah
menderita glaucoma.
·
Pengukuran
gonioskopi, membantu membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glaucoma. Uji dengan menggunakan metode ini akan didapatkan sudut
normal pada glaucoma kronik. Pada stadium lanjut, jika telah timbul
goniosinekia (perlengketan pinggir iris dan kornea/trabekula) maka sudut dapat
tertutup. Pada glaucoma akut ketika TIO meningkat, sudut COA akan tertutup,
sedang pada waktu TIO normal sudutnya sempit.
3.2 Diagnosa
Keperawatan
Diagnose keperawatan yang terjadi antara lain:
1) Penurunan
persepsi sensori : penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam
penglihatan dan kejeasan penglihatan
2) Nyeri
yang berhubungan dengan peningkatan TIO
3) Ansietas
yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan prognosis
4) Resiko
cedera yang berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan, kehilangan vitreus
5) Gangguan
perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan, pembatasan
aktivitas pasca operasi
6) Isolasi
social yang berhubungan dengan penurunan pandangan perifer, takut cedera atau
respon negative lingkungan terhadap ketidakmampuan visual
7) Berduka
adaptif/maladaptive yang berhubungan dengan hilangnya visus actual.
3.3 Tindakan
Keperawatan
Diagnose
Preoperatif
1) Penurunan
persepsi sensori : penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan
dan kejeasan penglihatan.
Subjektic:
menyatakan penglihatan kabur, tidak jelas, penurunan area penglihatan.
Objektif
:
a) Penurunan
lapang pandang menurun
b) Penurunan
kemampuan identifikasi lingkungan (benda, orang, tempat)
Tujuan :
klien melaporkan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan
dan mengomunikasikan perubahan visual
Kriteria hasil :
a) Klien
mengidentifikasikan factor-faktor yang mempengaruhi fungsi penglihatan
b) Klien
mengidentifikasikan dan menunjukkan pola-pola alternative untuk meningkatan
penerimaan rangsangan penglihatan
Intervensi
|
Rasional
|
1. Kaji
ketajaman penglihatan klien
|
Mengidentifikasi kemampuan visual
klien
|
2. Dekati
klien dari sisi yang sehat
|
Memberikan rangsang sensori,
mengurangi rasa isolasi/terasing
|
3. Identifikasi
alternative untuk optimalisasi sumber rangsangan
|
Memberikan keakuratan penglihatan dan
perawatannya
|
4. Ajurkan
penggunaan alternative rangsang lingkungan yang dapat diterima:
auditorik,taktik
|
Meningkatkan kemampuan respon terhadap
stimulus lingkungan
|
5. Sesuaikan
lingkungan untuk optimalisasi penglihatan,
-
Orientasikan klien terhadap ruang
rawat
-
Letakkan alat yang sering
digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat
-
Berikan pencahayaan cukup
-
Letakkan alat di tempat yang
tetap
-
Hindari cahaya menyilaukan
|
Meningkatkan kemampuan persepsi
sensori
|
2) Nyeri
yang berhubungan dengan peningkatan TIO
Subyektif : mengatakan
mata tegang, nyeri hebat, lebih sakit untuk melihat.
Objectif :
a) Meringis,
menangis menahan nyeri
b) Sering
memegangi mata
Tujuan
: Klien akan mengalami pengurangan nyeri
Kriteria Hasil:
a) klien
mengungkapkan nyeri berkurang
b) klien
berpartisipasi dalam kegiatan pengurangan nyeri
Intervensi
|
Rasional
|
1. Pertahankan
tirah baring ketat pada posisi semi-fowler dan cegah tindakan yang dapat
meningkatkan TIO (abatuk, bersin, mengejan).
|
Tekanan pada mata meningkat jika tubuh
datar dan maneuver valsava diaktifkan seperti pada aktivitas tersebut
|
2. Berikan
lingkungan gelap dan tenang
|
Stress dan sinar akan
meningkatkan TIO yang dapat mencetuskan nyeri.
|
3. Observasi
tekanan darah, nadi dan pernapasan tiap 24 jam jika klien tidak menerima
agens osmotic secara intravena dan tiap 2 jam jika klien menerima agens
osmotic intravena
|
mengidentifikasi
kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
|
4. Observasi
derajat nyeri mata setiap 30 menit selama fase akut
|
mengidentifikasi
kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan
|
5. Observasi
asupan-haluaran tiap 8 jam saat klien mendapatkan agens osmotic intravena
|
mengidentifikasi
kemajauan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan
|
6. Observasi
ketajaman penglihatan setiap waktu sebelum penetesan obat mata yang
diresepkan
|
mengidentifikasi
kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
|
7. Berikan
obat mata yang diresepkan untuk glaucoma dan beritau dokter jika terjadi
hipotensi, haluaran urine<24 ml/jam, nyeri pada mata tidak hilang dalam
waktu 30 menit setelah terapi obat, tajam penglihatan turun terus menerus
|
agens osmotic
intravena akan menurunkan TIO dengan cepat. Agens osmotic bersifat
hiperosmolar dan dapat menyebabkan dehidrasi; manitol dapat mencetuskan
hiperglikemis pada klien diabetes mellitus, tetes mata miotik memperlancar
drainase aquos humor dan menurunkan produksinya. Pengontrolan TIO adalah
esensial untuk memperbaiki penglihatan.
|
8. Berikan
analgesic narkotik yang diresepkan jika klien mengalami nyeri hebat dan
evaluasi kefektifannya
|
mengontrol nyeri.
Nyeri berat akan mencetuskan maneuver valsava dan meningkatkan TIO
|
3) Ansietas
yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan prognosis
Subyektif:
klien mengatakan takut tidak akan dapat melihat lagi setelah dilakukan tindakan
operasi
Objektif
:
a) Klien
terlihat kebingungan dan selalu bertanya perihal tindakan operasi
b) Tingkat
konsentrasi klien berkurang
c) Terdapat
perubahan pada tanda vital, tekanan darah meningkat.
Tujuan
: tidak terjadi kecemasan
Kriteria hasil
:
a) Klien
mengungkapkan kecemasan berkurang atau hilang
b) Klien
berpartisipasi dalam kegiatan pengobatan
intervensi
|
Rasional
|
1. Kaji
derajat kecemasan, factor yang menyebabkan kecemasan, tingkat pengetahuan dan
ketakutan klien akan penyakit.
|
Umumnya factor yang menyebabkan
kecemasan adalah kurangnya pengetahuan dan ancaman actual terhadap diri. Pada
klien glaucoma, rasa nyeri dan penurunan lapang pandang menimbulkan ketakutan
utama.
|
2. Orientasikan
tentang penyakit uang dialami klien, prognosis, dan tahapan perawatan yang
akan dijalani klien
|
Meningkatkan pemahaman klien akan
penyakit. Jangan memberikan keamanan palsu seperti mengatakan penglihatan
akan pulih atau nyeri akan segera hilang. Gambarkan secara objektif tahap
pengobatan, harapan proses pengobatan, dan orientasi pengobatan masa
berikutnya.
|
3. Berikan
kesempatan pada klien untuk bertanya tentang penyakitnya
|
Menimbulkan rasa aman dan perhatian
bagi klien
|
4. Beri
dukungan psikologis
|
Dukungan psikologis dapat berupa
penguatan tentang kondisi klien, peran serta aktif klien dalam perawatan
maupun mengorientasikan bagaimana kondisi penyakit yang sama menimpa klien
yang lain.
|
5. Terangkan
setiap prosedur yang dilakukan dan jelaskan tahap perawatan yang akan
dijalani, seperti riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik;foto toraks ;EKG
;diet;sedasi operasi dll
|
Mengurangi rasa ketidaktahuan dan
kecemasan yang terjadi
|
6. Bantu
klien mengekspresikan kecemasan dan ketakutan dengan mendengar aktif
|
Memberi kesempatan untuk berbagi
perasaan dan pendapat dan menurunkan ketegangan pikiran
|
7. Beri
informasi tentang penyakit yang dialami oleh klien yang berhubungan dengan
kebutaan
|
Mengorientasikan pada penyakit dan
kemungkinan realistic sebagai konsekuensi penyakit dan menunjukkan realitas.
|
Diagnose
Pasca operatif
4) Resiko
cedera yang berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan, kehilangan vitreus.
Subjektif
: keinginan untuk memegang mata, menyatakan nyeri sangat
Objektif
:
a) Perilaku
tidak terkontrol
b) Kecenderungan
memegang daerah operasi
Tujuan
: tidak terjadi cedera mata pasca operasi
Kriteria hasil:
a) Klien
menyebutkan factor yang menyebabkan cedera
b) Klien
tidak melakukan aktivitas yang meningkatan resiko cedera
intervensi
|
Rasional
|
1. Diskusikan
tentang rasa sakit, pembatasan aktivitas dan pembalutan mata
|
Meningkatan kerja sama dan pembatasan
yang diperlukan
|
2. Tempatkan
klien pada tempat tidur yang lebih rendah dan anjurkan untuk membatasi
pergerakan mendadak/ tiba-tiba serta menggerakkan keala berlebihan.
|
Istirahat mutlak diberikan 12-24 jam
pascaoperasi
|
3. Bantu
aktivitas selama fase istirahat. Ambulasi dilakukan dengan hati-hati
|
Mencegah/ menurunkan risiko komplikasi
cedera
|
4. Ajarkan
klien untuk menghindari tindakan yang dapat menyebabkan cedera
|
Tindakan yang dapat meningkatkan TIO
dan menimbulkan kerusakan struktur mata pascaoperasi antara lain:
-
Mengejan (valsava maneuver)
-
Menggerakkan kepala mendadak
-
Membungkuk terlalu lama
-
Batuk
|
5. Amati
kondisi mata;luka menonjol, bilik mata depan menonjol, nyeri mendadak, nyeri
yang tidak berkurang dengan pengobatan, mual,muntah. Dilakukan setiap 6 jam
pascaoperasi atau seperlunya
|
Berbagai kondisi seperti luka
menonjol, bilik mata depan menonjol, nyeri mendadak, hiperemi, serta hipopion
mungkin menunjukkan cedera mata pascaoperasi.
|
5) Gangguan
perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan, pembatasan
aktivitas pasca operasi.
Subjektif
: mengatakan takut melakukan aktivitas tertentu
Objektif
:
a) Tubuh
tidak terawat, kotor
b) Pergerakan
terbatas, hanya ditempat tidur
Tujuan
: kebutuhan perawatan diri koien terpenuhi
Kriteria hasil
:
a) Klien
mendapatkan bantuan parsial dalam pemenuhan kebutuhan diri
b) Klien
memeragakan perilaku perawatan diri secara bertahap
Intervensi
|
Rasional
|
1. Terangkan
pentingnya perawatan diri dan pembatasan aktivitas selama fase pascaoperasi
|
Klien dianjurkan untuk istirahat di
tempat tidur pada 2-3 jam peratama pasca operasi atau 12 jam jika ada
komplikasi. Selama fase ini, bantuan total diperlukan bagi klien.
|
2. Bantu
klien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
|
Memenuhi kebutuhan perawatan diri
|
3. Secara
bertahap, libatkan klien dalam memenuhi kebutuhan diri
|
Pelibatan klien dalam aktivitas
perawatan dirinya dilakukan bertahap dengan berpedoman pada prinsip bahwa
aktivitas tersebut tidak memprovokasi peningkatan TIO dan menyebabkan cedera
mata. Control klinis dilakukan dengan mengunakan indicator nyeri mata pada
saat melakukan aktivitas.
|
6) Deficit
pengetahuan (tentang proses penyakit, kondisi klinis, rencana terapi dan
penatalaksanaan di rumah) berhubungan dengan kurangnya informasi dan atau
mispresepsi informasi yang didapat sebelumnya
Tujuan,
klien akan: Klien mengetahui penatalaksanaan penyakitnya dan mampu mengulang
dan mendemostrasikan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan.
Intervensi
|
Rasional
|
1. Jika
gejala akut terkontrol, berikan informasi tentang kondisinya. Tekankan bahwa
glaucoma memerlukan pengobatan sepanjang hidup, harus teratur dan tidak
terputus
|
meningkatkan kerjasama klien.
Kegagalan klien untuk mengikuti penatalaksanaan yang ditentukan dapat
menyebabkan kehilangan pandangan progresif bahkan kebutaan.
|
2. Instruksikan
klien untuk mencari pertolongan medis jika ketidaknyamanan mata dan gejala
peningkatan TIO terulang saat menggunakan obat-obatan. Ajari klien tanda dan
gejala yang memerlukan perhatian medis dengan segera
|
upaya tindakan perlu dilakukan untuk
mencegah kehilangan penglihatan lebih lanjut/komplikasi lain
|
3. Ajarkan
klien dan keluarga serta izinkan klien mempraktikkan sendiri cara pemberian
tetes mata. Gunakan teknik aseptic yang baik saat meneteskan obat mata
|
meningkatkan keefektifan pengobatan,
memberikan kesempatan untuk klien menunjukkan kompetensi dan mengajukan
pertanyaan
|
4. Berikan
informasi tentang dosis, nama, jadwal, tujuan, dan efek samping yang dapat
dilaporkan dari semua obat-obatan yang diresepkan dirumah. Ingatkan klien
untuk memberikan tetes mata sikloplegik hanya pada mata yang terkena karena
pada mata yang tidak sakit obat tetes ini dapat mencetuskan serangan glaucoma
tertutup dan mengancam sisa pandangan klien.
|
penyakit ini dapat
dikontrol, bukan diobati dan mempertahankan konsistensi program pengobatan
adalah hal vital. Beberapa obat menyebabkan dilatasi pupil, peningkatan TIO
dan potensial kehilangan penglihatan tambahan.
|
5. Ingatkan
klien agar menggunakan obat-obat resep dan jangan membeli obat-obat bebas
atau yang lain tanpa sepengetahuan dokter
|
penyakit ini dapat
dikontrol, bukan diobati dan mempertahankan konsistensi program pengobatan
adalah hal vital. Beberapa obat menyebabkan dilatasi pupil, peningkatan TIO
dan potensial kehilangan penglihatan tambahan.
|
6. Jamin
semua instruksi dan informasi tentang obat yang diresepkan telah diberikan
secara tertulis
|
instruksi verbal
dapat mudah dilupakan klien
|
7. Identifikasi
efek samping atau reaksi yang merugikan dari pengobatan: penurunan selera
makan, mual/muntah, diare, kelemahan, perasaan mabuk, penurunan libido,
impoten, disritmia, pingsan, gagal jantung kongestif
|
efek samping/
merugikan obat mempengaruhi dari rentang tak nyaman sampai ancaman kesehatan
berat. Sekitar 50% klien akan mengalami sensitivitas atau alergi terhadap
obat parasimpatik (contoh Pilokarpin) atau obat antikolinesterase. Masalah
ini memerlukan evaluasi medic dan kemungkinan perubahan program terapi.
|
8. Tinjau
ulang praktik umum untuk keamanan mata
|
melindungi terhadap
cedera mata.
|
3.4 Evaluasi
1. Klien
dapat mempertahankan visus optimal
2. Tidak
terjadi komplikasi
3. Klien
merasakan nyeri berkurang atau tidak nyeri
4. Klien
tidak cemas
5. Klien
tidak mengalami cedera
6. Klien
mampu melakukan perawatan diri mandiri
7. Klien
mempunyai pengetahuan yang adekuat tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Glaukoma adalah suatu keadaan dimana
tekanan bola mata tidak normal. Tekanan bola mata yang normal dinyatakan dengan
tekanan air raksa yaitu antara 15-20 mmHg. Tekanan bola mata yang tinggi juga
akan mengakibatkan kerusakan syaraf penglihatan yang terletak di dalam bola
mata. Pada keadaan tekanan bola mata tidak normal atau tinggi maka akan terjadi
gangguan lapang pandang. Kerusakan seluruh syaraf penglihat akan mengakibatkan
kebutaan. Terdapat beberapa klasifikasi glaucoma yaitu primer, yang terdiri
dari sudut terbuka dan sudut tertutup, glaucoma sekunder, glaucoma kongenital
dan lainnya. Pencegahan masih mungkin dilakukan dengan melakukan pemeriksaan
awala tertuma pada kelompok-kelompok yang beresiko. Pengobatan bisa dengan
medical, terapi laser dan tindakan pembedahan.
7.2 Saran
1. Bagi
Rumah Sakit
Bagi
perawat unit medical bedah,
perlu terapi yang lebih spesifik khususnya pada klien dengan diagnose glaukoma
dengan cara pendekatan farmakologik dan
non farmakologik dan asuhan keperawatan yang komprehensif
dan pengajaran yang efektif,efisien dan berkelanjutan guna proses penyembuhan
klien.
2. Bagi
klien
Untuk
klien serta keluarga agar dapat secara mandiri menerapkan proses keperawatan
yang sudah diberikan maupun diajarkan oleh perawat untuk mencegah terjadinya
gejala berulang pada klien.
3. Bagi
institusi pendidikan
Pendidikan
terhadap pengetahuan perawat secara berkelanjutan perlu ditingkatkan baik
secara formal dan informal khususnya pengetahuan yang berhubungan dengan
perawatan klien dengan diagnose
glaukoma, dengan harapan institusi pendidikan
mampu mengajarkan cara memberikan
pelayanan asuhan keperawatan medical
bedah sesuai standart asuhan keperawatan dan kode etik.
DAFTAR PUSTAKA
DeWitt, Susan C. (1998).Essential of Medical Surgical Nursing, 4 th ed.,W.B Philadelphia
:Saunders Co.
Doengoes, M. dkk. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi Indonesisa. Jakarta : EGC
Engram, Barbara. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,vol.3. Jakarta: EGC
Ilyas, Sidarta.(2004). Ilmu Perawatan Mata.Jakarta: Sagung Seto
Istiqomah, Indriana N. (2005). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. Jakarta : EGC
Long, Barbara C. (1996). Keperawatan Medikal Bedah, Suatu pendekatan Proses Keperawatan,edisi
Indonesia. Bandung :Yayasan IAPK
Smeltzer, Susane C, Bare, Brenda G.(2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddart, edisi 8 Indonesia, vol 3. Jakarta :EGC
Syaifuddin. (2009). Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika
Tamsuri, Anas. (2010). Klien Gangguan Mata & Penglihatan Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta
:EGC